Rumah Adat Sunda Jawa Barat Indonesia

Rumah adat sunda merupakan rumah tradisional yang berasal dari bagian barat pulau Jawa. Rumah adat Sunda berbentuk panggung seperti rumah adat Jambi dengan ketinggian 50 sampai 100 cm dari permukaan tanah. Kaki-kaki rumah adat sunda terbuat dari batu balok persegi yang disebut batu tatapakan dalam bahasa Sunda. Pada masyarakat buhun (jaman dulu) rumah adat Sunda ini memiliki tinggi mencapai 1,5 meter yang digunakan untuk menyimpan peralatan pertanian dan dan tempat mengikat hewan peliharaan.

Pada bagian depan rumah disediakan tangga untuk naik ke dalam rumah, tangga ini terbuat dari kayu atau bambu yang disebut golodog oleh masyarakat sunda. Golodog ini memiliki beberapa anak tangga yang berfungsi untuk membersihkan kaki sebelum masuk kedalam rumah. Tiang rumah adat Sunda terbuat dari kayu, bagian bawah atau lantainya menggunakan talupuh atau papan kayu, sedangkan dindingnya memakai bilik atau anyaman dari bambu.

Rumah adat Sunda memiliki beberapa nama yang berbeda, perbedaannya terdapat pada suhunan atau bagian atap rumah, antara lain suhunan julang ngapak, parahu kumureb, jolopong, tagog anjing, badak heuay dan capit gunting. Dari semua nama rumah adat Sunda tersebut, jolopong merupakan bentuk rumah yang paling sederhana dan paling umum ditemui di desa-desa yang ada di daerah sunda.

Rumah Adat Sunda (Jolopong)

Jolopong rumah adat Sunda (karungkuring.blogspot.com)

Jolopong rumah adat Sunda (KarungkuringBlogspotCom)

Jolopong menggunakan dua bidang atap memanjang yang dipisahkan oleh jalur suhunan di tengah bangunan rumah yang biasa disebut gagajahan. Batang suhunan memiliki ukuran yang sama panjang dan sejajar, kedua sisi bagian bawah bidang atap yang sebelah menyebelah, sedangkan bagian lain lebih pendek dibanding dengan suhunan yang memotong lurus memanjang di kedua bagian ujung suhunan tersebut.

Jolopong memiliki interior yang sangat efisien, yaitu terdiri dari ruang depan yang disebut tepas dalam bahasa sunda yang berfungsi untuk menerima tamu, kemudian ruangan tengah disebut tengah imah/patengahan, kamar atau pangkeng dan ruangan belakang yang terdiri dari dapur atau pawon dan ruangan khusus untuk menyimpan beras yaitu padaringan.

Ruangan tepas sengaja dibiarkan kosong tanpa perabotan rumah tangga seperti meja, kursi, atau tempat duduk lain. Jika ada tamu yang datang barulah si pemilik rumah menggelar tikar untuk tempat menyambut tamu. Namun seiring berjalannya waktu, kini bagian tepas sudah dilengkapi dengan meja, kursi dan peralatan lainnya. terdapat pula ruang balandongan yang berfungsi sirkulasi udara untuk menambah kesejukan rumah.

Pangkeng atau kamar merupakan ruangan untuk tidur dan beristirahat. Ada pula ruangan sejenis pangkeng yang disebut jobong atau gudang yang berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan peralatan rumah tangga. Ruangan tengah atau patengahan digunakan sebagai ruang keluarga atau acara-acara adat seperti selamatan dan ruang pawon atau dapur digunakan untuk memasak.

***

Rumah adat Sunda memiliki nilai filosofis yang sangat mendalam, nama-nama suhunan rumah adat Sunda ditujukan untuk menghormati alam di sekitarnya. Hampir di setiap bangunan rumah adat Sunda yang ada, sangat jarang ditemukan material yang terbuat dari besi maupun material bangunan modern lainnya. Hal inilah yang masih dipertahankan oleh masyarakat Sunda di kampung Naga Tasikmalaya.

Material yang digunakan rumah adat Sunda menggunakan pasak dari kayu dan bambu untuk penguat antar tiang, sedangkan bagian atapnya menggunakan ijuk bukan genting, dindingnya terbuat dari bilik bambu dan lantai panggung dari palupuh atau papan kayu. Penggunaan material tersebut sengaja digunakan semata-mata untuk melindungi penghuni rumah dari hujan, angin dan terik matahari.

 

No Responses

  1. Pingback: Keunikan Rumah Joglo Sebagai Salah Satu Budaya Indonesia 17 Oktober 2016

Leave a Reply