Benar atau Tidak Bahtera Nabi Nuh Terbuat dari Kayu Jati? Ini Jawabannya!

Kayu bahtera Nabi Nuh berasal dari Indonesia, benarkah? Kisah tentang bahtera atau kapal Nabi Nuh telah disebutkan di dalam Al-Qur’an. Sejumlah peneliti telah menemukan bukti-bukti valid tentang keberadaan kapal Nabi Nuh tersebut. Melalui penelitian selama bertahun-tahun dengan mengamati hasil foto dari satelit ditemukan jejak peninggalan kapal Nabi Nuh yang terletak di pegunungan barat Turki dan berdekatan dengan perbatasan Iran.

 

Lokasi Bangkai Kapal Nabi Nuh as

Lokasi bangkai kapal Nabi Nuh

via blogspot.com

Pemerintah Turki mengklaim telah menemukan bangkai kapal tersebut pada tanggal 11 Agustus 1979 di wilayahnya. Bahkan tempat tersebut telah dibuka untuk umum dan menjadi objek wisata. Kini gunung Sabalan di Iran yang terletak 300 KM dari pegunungan barat Turki juga tengah diselidiki. Berbagai cara pun dilakukan untuk membuktikannya, seperti yang terlihat dari foto-foto satelit luar angkasa, di lokasi tersebut tampak sebuah bentuk simetris cekungan yang menyerupai perahu.

Diduga debu, tanah dan batuan vulkanik telah masuk kedalam perahu tersebut selama bertahun-tahun, sehingga memadat dan membentuk sesuai bentuk perahu. Tidak jauh dari lokasi penemuan kapal ditemukan pula jangkar batu dan reruntuhan dari batu yang memiliki ukiran. Dengan menggunakan peta satelit Google Earth, lokasi perahu Nabi Nuh tersebut terletak pada ketinggian sekitar 2000 Mdpl.

Lokasi bangkai kapal Nabi Nuh berada pada perbukita yang sedikit rata, dan di daerah sekitarnya masih terdapat lembah yang memiliki ketinggian jauh lebih rendah. Sehingga bisa disimpulkan bahwa perahu Nabi Nuh diperkirakan mendarat pada saat banjir masih belum benar-benar surut. Hal tersebut juga menunjukan bahwa kondisi topografi di sekitar perahu Nabi Nuh sangat memungkinkan terjadinya banjir yang besar.

Kisah Nabi Nuh as

kisah nabi nuh as

flickr.com

Kembali pada kisah kapal Nabi Nuh, dahulu Nabi Nuh mendapat hinaan, cacian dan tentangan dari kaumnya yang tidak mau mendengar ajakannya untuk beriman kepada Allah. Berkali-kali Nabi Nuh mengingatkan kaumnya akan azab Allah yang amat pedih bagi siapapun yang tidak mau beriman kepadanya. Sehingga Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat sebuah kapal dan mengajarkan kepadanya bagaimana membuatnya dengan baik.

Mulailah Nabi Nuh as membuat kapal dengan dibantu kaumnya yang beriman. Namun setiap kali kaumnya yang kafir melewati Nabi Nuh dan para pengikutnya, mereka menghina dan mengejeknya karena beliau membuat kapal besar di tengah gurun sahara yang tidak ada sungai atau laut.

Akhirnya pembuatan kapal tersebut selesai. Nabi Nuh mendapatkan wahyu bahwa akan terjadi banjir besar, maka ia meminta pada setiap umat yang beriman untuk menaiki kapal tersebut. Beliau juga menganggkut setiap jenis hewan dan juga burung. Sampai ketika Nabi Nuh as bersama pengikutnya telah berada di atas kapal, datanglah banjir besar. Langit mengucurkan hujannya dengan deras, mata air di bumi pun mulai memancarkan airnya dengan kuat. Nabi Nuh pun berkata:

Dan dia berkata, “Naiklah kamu semua kedalamnya (kapal) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Huud: 41)

Kapal pun mulai berlayar dan mengapung di atas air, ketika itu Nabi Nuh melihat anaknya yang kafir lalu ia memanggilnya dan berkata:

Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anakknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil. “Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir. (QS. Huud: 42)

Namun anakknya menolak ajakan Nabi Nuh, saat melihat air membanjiri rumah dan mengalir dengan derasnya kaum Nabi Nuh yang kafir merasa akan binasah. Sehingga mereka segera mencari tempat-tempat yang tinggi untuk menyelamatkan diri, tetapi semua usaha mereka percuma saja karena banjir tersebut telah mencapai puncak gunung. Allah SWT membinasahkan orang-orang kafir dan menyelamatkan Nabi Nuh beserta para pengikutnya. Setelah kaum yang kafir tersebut binasah maka diperintahkan kepada langit dan bumi:

Dan difirmankan, “Wahai bumi! Telanlah airmu, dan wahai langit (hujan!) berhentilah.” Dan air pun disurutkan, dan perintahpun diselesaikan dan kapal itu pun berlabuh di atas Gunung Judi, dan dikatakan,”Binasalah orang-orang zalim.” (QS. Huud: 44)

Selanjutnya Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh dan para pengikutnya turun dari kapal, Allah berfirman:

Difirmankan, “Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang pedih.” (QS. Huud: 48)

Setelah itu Nabi Nuh dan para pengikutnya turun dan melepaskan hewan-hewan yang diangkutnya. Kemudian mulailah beliau dan para pengikutnya menjalani kehidupan yang baru. Beliau berdakwah kepada kaum mukmin dan mengajarkan kepada mereka hukum-hukum agama, beliau banyak melakukan dzikrullah, sholat dan berpuasa hingga beliau wafat dan menghadap Allah SWT.

Ukuran Kapal Nabi Nuh Diperkirakan Memiliki Luas 7546 Kaki

Replika Kapal Nabi Nuh

via flickr.com

Ukuran kapal Nabi Nuh diperkirakan memiliki luas 7546 kaki dengan panjang sekitar 500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 kaki. Hal ini berdasarkan foto-foto yang diambil dari lokasi pegunungan Ararat menunjukan adanya sebuah fosil perahu yang memiliki ukuran besar. Menurut salah seorang peneliti ukuran kapal Nabi Nuh sekitar 300 hasta atau panjang sekitar 50 meter, luas 30 meter dan terdiri dari 3 tinggkat.

Pada tingkat pertama diletakan binatang-binatang yang sudah dijinakkan, kemudian pada tinggkat ke-dua adalah tempat Nabi Nuh dan para pengikutnya, lalu di tingkat ke-tiga diletakkan burung-burung. Ada pula yang mengatakan bahwa kapal Nabi Nuh berukuran lebih luas dari sebuah lapangan sepakbola. Luas di dalamnya cukup untuk menampung puluhan ribu manusia dan jarak dari satu tingkat ke tingkat lainnya mencapai 12 kaki. Berat kapal tersebut diperkirakan mencapai 24.300 ton.

Kayu Kapal Nabi Nuh Berasal dari Indonesia, Benarkah?

Kayu Jati Jawa

via blogspot.com

Pada tahun 2010 peneliti arkeolog antropologi dari dua negara China dan Turki menemukan bukti baru, mereka mengumpukkan artefak dan fosil-fosil berupa serpihan kayu kapal, tambang dan paku. Hasil laboratorium menunjukan bukti yang mengejutkan bahwa fosil kayu kapal Nabi Nuh as berasal dari kayu jati yang ada di pulau jawa.

Mereka telah meneliti beberapa sampel kayu purba dari berbagai negara dan memastikan bahwa fosil kayu jati yang berasal dari pulau Jawa Indonesia memiliki kecocokan dengan sampel kayu kapal Nabi Nuh as. Menurut penelitian perahu Nabi Nuh tersebut diperkirakan dibuat sekitar 2465 sebelum masehi. Beberapa sarjana berpendapat perahu tersebut dibangun di sebuah tempat yang terletak di selatan Iraq. Jika benar kapal tersebut dibangu di selatan Iraq hingga akhirnya terdampar di utara Turki, kemungkinan besar kapal tersebut telah terombang-ambing sejauh 520 KM.

Namun kebenaran penemuan tersebut masih menjadi perdebatan banyak pihak, sejumlah peneliti percaya bahwa pegunungan Ararat adalah tempat berlabuhnya kapal Nabi Nuh. Al-Qur’an tidak menyebutkan nama sebuah gunung melainkan Al Judi yang berarti sebuah tempat yang tinggi. Kebenaran mengenai kayu yang dipercayai berasal dari Indonesia juga masih belum bisa kita yakini kebenarannya. Karena kebenaran hanyalah milik Allah SWT semata dan Dia Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

Leave a Reply